Ujian Keikhlasan



Menurut Fudhail bin Iyadh, "ahsanu 'amalan" atau sebaik-baik amal adalah yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan benar; sesuai petunjuk syariat.

Perkataan ini terdengar sangat mudah dipahami. Setiap amal shalih memang harus diniatkan Lillahi Ta'ala. Hanya saja dalam praktiknya, menjaga keikhlasan tidak sesederhana teori yang dipelajari.

Setidaknya ada tiga kondisi dalam suatu amalan yang menghajatkan keikhlasan: qabla, 'inda dan ba'da amal. Sebelum, ketika, dan sesudah beramal.

Kondisi ketiga itulah yang tentunya paling berat dipraktikkan. Faktanya, seringkali terjadi, ada orang yang begitu menggebu-gebu, bersemangat ketika memberi kontribusi, tapi tidak pandai memenej hati. Sehingga ketika merasa tersakiti, lisannya tergoda untuk mengungkit jasa-jasa yang pernah ia beri.

"Berjasalah. Tapi jangan pernah merasa paling berjasa, apalagi minta tanda jasa." Demikian nasihat para Kyai saya dahulu ketika membahas masalah keikhlasan.

Betapa sulitnya menjaga keikhlasan, sehingga para ulama penyusun kitab-kitab hadits, selalu menomor satukan wasiat Nabi Shallallahu alaihi wa sallama yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, "Innamal a'maalu bin niyyati. Wa innamaa likulli imri'in maa nawaa..."

Jangankan kita yang hidup jauh dari zaman kenabian. Para sahabat saja harus mengalami betapa sulitnya menghadapi ujian keikhlasan.

Lihatlah sejarah. Bagaimana fenomena konflik terjadi di antara kaum beriman generasi salaf bahkan ketika Rasul masih membersamai mereka? Apa akar masalahnya? Urusan dunia. Fitnah harta. Sampai-sampai pertikaian mereka menjadi sebab turunnya surat Al-Anfal.

Ketika itu, setelah menang di perang Badr Kubra tahun 2 H, masing-masing regu yang ikut bertempur, merasa paling berhak mendapatkan jatah yang banyak dari harta rampasan perang yang mereka peroleh. Padahal sebelumnya, mereka bersatu padu, berangkat dengan niat yang sama: berjuang, berjihad di jalan Allah. Tapi mereka malah bersitegang setelah menang.

Mungkin ini sesuatu yang manusiawi. Walau bagaimanapun, mereka bukanlah malaikat. Juga bukan anbiya yang maksum dari cela dan dosa.

Sangat menarik hikmah yang disampaikan Prof. Yunahar Ilyas, Lc. M.A, ketika beliau mentadabburi permasalahan ini. Buya Yunahar mengaitkan kisah Al-Anfal dengan berbagai fenomena hari ini yang akar masalahnya sangat mirip sekali: tergoda harta.

Banyak yayasan, lembaga pendidikan, madrasah, pesantren, bahkan masjid, dibangun secara berjama'ah. Pihak-pihak yang terlibat pembangunan saling menopang: bahu membahu dalam merintis proyek keumatan.

Tetapi, begitu sekolah itu maju, masjid itu banyak jama'ahnya, pesantren itu mulai diminati, banyak santrinya, dan maaf, juga mulai banyak uangnya, para pengelola terkesan saling berebut harta. Persatuan pun terpecah. Saling sikut, ghibah dan fitnah. Wal 'iyaadzu billah.

Surat Al-Anfal memberi pelajaran penting: apa yang sebenarnya kita cari dari perjuangan ini?

Di dalamnya juga terdapat taujih rabbani agar dimudahkan menjaga keikhlasan dalam beramal:

"Fattaquullaha wa ashlihuu dzaata baynikum wa athii'uullaha wa rasuulahu in kuntum mu'miniina."

Kita semua, jika mengaku sebagai mukmin, diingatkan untuk bertakwa dan berdamai dengan sesama. Artinya, kita harus muraja'ah materi-materi dasar tentang sifat-sifat orang bertakwa, dan berkata jujur pada diri sendiri; seberapa dekat kita dengan derajat takwa?

Kemudian, selain "fattaquullaha", harus "fa ashlihu dzaata baynikum".

Maksdunya, jika terjadi konflik, segera selesaikan. Jangan didiamkan berlarut-larut. Temukan akar masalahnya. Tegakkan keadilan. Tunaikan hak-hak sesama, alih-alih banyak menuntut. Katakan yang salah itu salah. Yang benar itu benar. Dengan begitu, perdamaian akan tercipta.

Demikianlah sekelumit faidah dari Al-Qur'an. Semoga menginspirasi dan mengetuk hati-hati orang beriman. Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah dunia dan segala bentuk penyakit hati yang merusak amal shalih.

Aaammiin. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.



Author : Muhammad Faishal Fadhli

Solo, 25 Sya'ban 1443 H.


Post a Comment

أحدث أقدم